📅 29 April 2026⏱️ 11 menit baca📝 2,014 kata

Introduction

Levitating (2026) adalah film Indonesia yang hadir sebagai perpaduan unik antara drama, fantasi, dan unsur spiritual yang dibingkai dengan nuansa satire sosial. Disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, film ini mengangkat dunia yang absurd sekaligus intim: sebuah kota di mana kenikmatan dan transes spiritual saling berkelindan, dan “kesurupan” menjadi bagian dari kehidupan sosial yang bahkan memiliki nilai ekonomi. Dengan premis seperti itu, Levitating langsung menonjol sebagai film yang tidak sekadar menawarkan hiburan, tetapi juga ide besar tentang tubuh, keyakinan, hasrat, dan cara manusia bertahan hidup di tengah tekanan hidup sehari-hari.

Secara tone, film ini terasa ambisius dan tidak biasa. Ia memadukan atmosfer mistis, rasa penasaran, dan konflik personal yang sangat manusiawi. Tokoh utamanya, Bayu, bukan pahlawan yang berangkat dari kemewahan, melainkan seorang pemuda yang ingin menjadi shaman atau pemandu trance party demi mengumpulkan dana agar rumahnya tidak dievakuasi. Dari sini saja terlihat bahwa film ini bergerak di persimpangan antara dunia spiritual dan problem ekonomi nyata. Inilah yang membuat Levitating menjadi salah satu judul Indonesia 2026 yang paling menarik untuk dibicarakan.

Film ini juga dikenal dengan judul alternatif Para Perasuk dalam pemberitaan publik, termasuk dari festival dan media lokal. Kehadiran film ini setelah gaungnya di Sundance Film Festival 2026 memperkuat posisi Levitating sebagai film Indonesia yang mampu menembus perhatian internasional, bukan hanya karena nama kreatornya, tetapi juga karena keberanian tematiknya.

Plot Synopsis

Levitating mengikuti Bayu Laksana, seorang pria muda yang hidup di sebuah kota aneh namun terasa sangat dekat dengan realitas sosial tertentu: sebuah tempat di mana kesenangan, ekspresi tubuh, dan kerentanan spiritual menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam dunia ini, kesurupan bukan hanya fenomena supranatural, tetapi juga sesuatu yang dikomodifikasi melalui pertunjukan trance party. Bayu bercita-cita menjadi shaman dalam acara-acara seperti itu, bukan semata karena panggilan batin, melainkan karena ia membutuhkan uang untuk mencegah keluarganya tergusur dari tempat tinggal mereka.

Dari premis tersebut, film bergerak mengikuti Bayu saat ia menavigasi ambisi, tekanan keluarga, dan tuntutan sosial. Ia tampak berada di antara dua dunia: satu sisi dunia ritual dan performa spiritual yang penuh energi kolektif, dan sisi lain dunia rumah tangga yang rapuh, di mana ancaman eviction atau penggusuran menjadi bayang-bayang yang terus mendesak. Konflik utamanya bukan sekadar “apakah Bayu bisa sukses,” melainkan apakah ia bisa mempertahankan martabat, keluarga, dan identitasnya di tengah sistem yang menuntutnya untuk menjadikan spiritualitas sebagai komoditas.

Tanpa masuk ke wilayah spoiler akhir, kisahnya tampaknya menekankan proses Bayu memahami arti kekuasaan, pengaruh, dan keterhubungan dengan orang-orang di sekelilingnya. Dengan karakter pendukung seperti Laksmi, Guru Asri, Pawit Arifin, Ananto, dan sosok-sosok lain yang terkait dengan dunia trance, narasi film berpotensi bergerak melalui relasi guru-murid, kompetisi, dan pertarungan antara dorongan pribadi dan tanggung jawab sosial. Berdasarkan deskripsi resminya, Levitating lebih dari sekadar cerita tentang kesurupan; film ini adalah cerita tentang bagaimana seseorang mencoba “melayang” di atas tekanan hidup yang sangat membumi.

Struktur ceritanya kemungkinan besar dibangun dari situasi-situasi yang tidak stabil, penuh ketegangan, dan berlapis simbol. Film ini tidak hanya menjadikan trance sebagai latar, tetapi sebagai bahasa untuk membahas keputusasaan, solidaritas, dan kebutuhan manusia akan pengakuan. Karena itu, penonton dapat mengharapkan alur yang atmosferik, penuh detail budaya, serta menyimpan banyak momen yang menggabungkan realisme sosial dengan rasa mistis.

Cast & Characters

Film ini dibintangi oleh jajaran aktor Indonesia yang kuat dan familiar. Angga Yunanda berperan sebagai Bayu Laksana, tokoh sentral yang membawa penonton masuk ke dalam dunia film. Peran Bayu menuntut kemampuan bermain yang tidak hanya emosional, tetapi juga fisik dan spiritual, karena karakter ini tampaknya harus tampil meyakinkan dalam adegan-adegan trance, tekanan ekonomi, dan konflik batin. Angga Yunanda dikenal memiliki daya tarik layar yang besar, dan di film seperti ini, pesonanya kemungkinan menjadi jembatan penting agar penonton tetap terikat pada perjalanan karakter utama.

Maudy Ayunda memerankan Laksmi, yang secara penulisan karakter berpotensi menjadi figur penting dalam sisi emosional atau moral cerita. Kehadiran Maudy biasanya identik dengan karakter yang tenang namun berisi, sehingga Laksmi kemungkinan menjadi penyeimbang di tengah dunia film yang penuh turbulensi. Anggun sebagai Guru Asri memberi bobot tersendiri, terutama karena figur “guru” dalam cerita tentang trance biasanya punya peran otoritatif, spiritual, atau bahkan ambigu.

Chicco Kurniawan tampil sebagai Pawit Arifin, sementara Bryan Domani memerankan Ananto. Dua nama ini memperkuat ansambel film dan kemungkinan menjadi bagian dari jejaring sosial Bayu, baik sebagai teman, rival, atau orang-orang yang ikut membentuk jalan hidupnya. Indra Birowo sebagai Bayu's Father memberi dimensi keluarga yang sangat penting, karena ancaman eviksi membuat relasi ayah-anak menjadi fondasi emosional cerita.

Deretan pemain pendukung seperti Ganindra Bimo sebagai Fahri, Ivonne Dahler sebagai Mrs. Nana, Aryudha Fasha sebagai Bang Yoga, dan Alex Suhendra sebagai Guru Bondan menunjukkan bahwa film ini membangun dunia yang padat karakter. Dalam film seperti Levitating, peran-peran pendukung sering kali sangat penting karena mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan simpul dari tradisi, tekanan komunitas, dan dinamika spiritual yang menjadi inti cerita.

Aktor Karakter Keterangan
Angga Yunanda Bayu Laksana Tokoh utama, calon shaman trance party
Maudy Ayunda Laksmi Figur penting dalam konflik emosional
Anggun Guru Asri Sosok guru/spiritual guide
Chicco Kurniawan Pawit Arifin Karakter pendukung utama
Bryan Domani Ananto Karakter pendukung utama

Director & Production

Wregas Bhanuteja adalah sutradara sekaligus salah satu penulis naskah film ini, bersama Alicia Angelina dan Defi Mahendra. Nama Wregas sudah identik dengan pendekatan yang peka terhadap detail sosial dan atmosfer yang kuat, sehingga kehadirannya sangat relevan untuk film seperti Levitating. Ia dikenal sebagai pembuat film yang tidak takut menggabungkan realisme dengan metafora, dan film ini tampaknya menjadi salah satu ruang paling ambisius untuk gaya tersebut.

Dari sudut produksi, film ini juga menarik karena berhasil menjadi perhatian publik internasional, termasuk melalui pemutaran dan pembicaraan terkait Sundance Film Festival 2026. Pemberitaan tentang trailer resmi, standing ovation, dan penayangan festival menunjukkan bahwa Levitating tidak hanya dirancang sebagai film lokal, tetapi juga sebagai karya yang siap dibaca dalam konteks sinema global. Ini penting, karena film dengan tema spiritual dan budaya lokal sering kali membutuhkan eksekusi yang sangat presisi agar tetap otentik sekaligus komunikatif bagi penonton internasional.

Informasi resmi yang tersedia dari TMDB tidak mencantumkan rumah produksi secara eksplisit dalam data yang diberikan, namun jejak distribusi festival dan pemberitaan media menunjukkan adanya perhatian serius terhadap pemasaran dan penempatan film ini di sirkuit penayangan yang lebih luas. Dalam konteks tersebut, Levitating dapat dipahami sebagai film yang dibangun dengan niat artistik kuat dan strategi peluncuran yang terarah.

Critical Reception & Ratings

Berdasarkan data TMDB yang tersedia, Levitating memiliki rating 8.0/10 dari 4 suara. Walaupun jumlah pemilih masih kecil, angka ini memberi sinyal awal yang positif. Untuk film yang baru dirilis pada 23 April 2026, respons awal seperti ini mengindikasikan adanya ketertarikan dan apresiasi dari penonton yang sudah menontonnya, terutama mereka yang mencari sinema Indonesia dengan pendekatan artistik yang tidak biasa.

Dari sisi pemberitaan, beberapa media menyoroti pencapaian film ini di festival, termasuk kabar tentang standing ovation di Sundance 2026 dan rilis trailer setelah keberhasilan tersebut. Walau artikel-artikel awal belum tentu merepresentasikan ulasan kritikus lengkap, sinyal yang muncul jelas positif: film ini dianggap cukup kuat untuk menarik perhatian di luar Indonesia. Judul alternatif Para Perasuk juga muncul di berbagai berita, menunjukkan bahwa film ini memiliki resonansi cukup besar untuk dibicarakan dalam beberapa konteks sekaligus.

Untuk perbandingan, IMDb dan Rotten Tomatoes belum tentu memiliki basis ulasan yang luas pada saat-saat awal perilisan seperti ini, sehingga penilaian publik masih bisa berkembang. Namun yang paling penting, film ini tampaknya sudah memperoleh modal reputasi yang baik: tema yang unik, penyutradaraan yang diperhitungkan, dan respons festival yang menjanjikan. Dalam banyak kasus, film seperti ini sering tumbuh reputasinya seiring bertambahnya penonton dan diskusi kritis.

Box Office & Release

Levitating dirilis pada 23 April 2026, sesuai data TMDB, dan telah masuk pembicaraan publik pada tanggal yang sama melalui pemberitaan media daring. Berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, film ini ditayangkan di bioskop dan juga menjadi perbincangan dalam konteks festival, termasuk Sundance. Karena film ini masih berada pada fase awal edar dan belum ada data resmi box office global yang terpublikasi luas, pendapatan dunia belum bisa dipastikan secara akurat dari sumber yang tersedia.

Untuk platform streaming, belum ada konfirmasi resmi yang dapat dijadikan patokan dalam data yang diberikan. Artinya, bila Anda ingin menonton Levitating, opsi paling pasti saat ini adalah memantau jadwal bioskop, pemutaran festival, atau pengumuman distribusi digital dari pihak terkait. Mengingat perhatian festival yang besar, sangat mungkin film ini akan mendapatkan jalur distribusi yang lebih luas setelah masa tayang awalnya selesai.

Secara industri, rilis pada April 2026 menempatkan film ini dalam posisi yang menarik: cukup dekat dengan momen festival untuk mendapatkan daya tarik internasional, namun juga cukup strategis untuk menjangkau penonton domestik yang mencari film Indonesia dengan identitas kuat. Jika distribusinya meluas, Levitating berpotensi menjadi salah satu judul Indonesia yang menonjol di 2026.

Themes & Analysis

Salah satu tema paling kuat dalam Levitating adalah komodifikasi spiritualitas. Film ini menempatkan trance party dan kesurupan sebagai bagian dari ekonomi sosial, bukan hanya ritual budaya. Dengan Bayu yang ingin menjadi shaman demi mengumpulkan uang, film ini mengajukan pertanyaan penting: apa yang terjadi ketika sesuatu yang sakral harus bernegosiasi dengan kebutuhan hidup sehari-hari? Di titik ini, Levitating tampak berbicara tentang batas tipis antara iman, performa, dan survival.

Film ini juga tampaknya mengangkat tema kerentanan kelas. Ancaman eviksi membuat konflik Bayu tidak abstrak. Ia tidak sedang mengejar impian yang romantis, melainkan sedang mencoba menyelamatkan rumah. Karena itu, ritual, tubuh, dan transes tidak hadir sebagai ornamen eksotik, tetapi sebagai bagian dari sistem sosial yang menentukan siapa punya kendali atas hidupnya sendiri. Hal ini memberi film lapisan sosial yang kuat dan relevan dengan pengalaman penonton urban maupun rural di Indonesia.

Selain itu, Levitating kemungkinan besar membahas identitas dan performativitas. Menjadi shaman bukan hanya soal kemampuan spiritual, tetapi juga soal pengakuan sosial, kepercayaan komunitas, dan kemampuan tampil di hadapan orang lain. Bayu harus “melayang” secara literal maupun simbolik: melampaui keadaan ekonominya, ekspektasi keluarga, dan batasan dirinya sendiri. Karena itu, judul Levitating terasa sangat tepat—ia menggambarkan kondisi rapuh yang justru membutuhkan keseimbangan tinggi.

Dalam konteks budaya, film ini penting karena membawa elemen lokal Indonesia ke panggung yang lebih luas tanpa mereduksi kekhasannya. Kehadiran tokoh-tokoh seperti guru spiritual, keluarga, dan komunitas trance menunjukkan bahwa film ini berakar pada pengalaman yang sangat spesifik, namun tetap punya daya tarik universal: keinginan untuk bertahan hidup, kebutuhan akan pengakuan, dan pencarian makna di tengah kekacauan.

Should You Watch It?

Ya, terutama jika Anda menyukai film yang berani, atmosferik, dan penuh gagasan. Levitating bukan film yang dirancang untuk penonton yang hanya mencari hiburan ringan. Ini adalah film untuk mereka yang tertarik pada sinema Indonesia kontemporer, cerita dengan lapisan sosial, dan pengalaman menonton yang memadukan realisme dengan unsur spiritual. Jika Anda menyukai film festival, drama yang tidak klise, atau karya yang menawarkan sudut pandang baru tentang budaya dan tubuh, film ini sangat layak masuk daftar tonton.

Film ini kemungkinan paling cocok untuk penonton yang menyukai karya-karya dengan karakter kuat, konflik batin, dan simbolisme. Kehadiran Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun, dan jajaran pemain lain juga membuatnya menarik bagi penonton yang mengikuti aktor-aktor Indonesia papan atas. Namun, kekuatan utamanya bukan hanya pada cast, melainkan pada konsepnya yang unik dan keberaniannya membahas spiritualitas sebagai bagian dari ekonomi dan kehidupan sosial.

Jika Anda mengharapkan plot yang sangat linear atau film yang serba menjelaskan, Levitating mungkin terasa menantang. Tetapi justru di situlah daya tariknya. Ini adalah film yang mengundang interpretasi, diskusi, dan pembacaan ulang. Untuk penonton yang menyukai sinema dengan identitas kuat dan ambisi artistik, film ini sangat direkomendasikan.

Conclusion

Levitating (2026) adalah salah satu film Indonesia paling menarik di tahun ini karena keberaniannya menggabungkan drama sosial, spiritualitas, dan fantasi dalam satu dunia yang terasa orisinal. Dengan Bayu Laksana sebagai pusat cerita, film ini mengangkat persoalan yang sangat manusiawi: bagaimana bertahan hidup ketika rumah terancam, identitas dipertaruhkan, dan spiritualitas ikut masuk ke dalam ekonomi pertunjukan. Hasilnya adalah film yang bukan hanya unik, tetapi juga relevan dan berlapis.

Didukung oleh penyutradaraan Wregas Bhanuteja, pemeran yang solid, serta respons awal yang positif dari festival dan TMDB, Levitating berpotensi menjadi karya penting dalam sinema Indonesia 2026. Baik sebagai tontonan maupun bahan diskusi, film ini menawarkan sesuatu yang berbeda: sebuah cerita tentang manusia yang mencoba tetap “melayang” tanpa kehilangan pijakan pada kenyataan hidup.

References

  1. TMDB — Levitating (2026) official film page
  2. Rotten Tomatoes — Reviews and scores database
  3. IMDb — Film cast, crew, and audience ratings
  4. Variety — Film news and festival coverage
  5. The Hollywood Reporter — Industry reporting and reviews
  6. IndieWire — Festival news and critical analysis
⏳ Film Belum Ada, Coba lagi Besok